Rahasia Membeli Sukuk atau Ori

Rahasia Membeli Sukuk atau Ori

Surat hutang selain menguntungkan karena mendapatkan imbal hasil yang tetap dan tertentu juga memiliki potensi keuntungan lainnya. Apakah itu? Surat hutang yang diperdagangkan setelah masa penerbitan awalnya berakhir akan diperjualbelikkan di pasar sekunder layaknya saham.

Pada saat dipasarkan pada pasar sekunder maka surat hutang dapat bergerak naik dan turun harganya, dalam bahasa surat hutang kondisi naik lebih mahal daripada saat penerbitan disebut at premium, sedangkan turun lebih murah daripada saat diterbitkan disebut at discount, dan pada saat kondisi sama dengan harga perdana akan disebut at par.

Pada saat harga surat hutang atau obligasi mencapai masa jatuh tempo atau saat dana modal yang investor investasikan dikembalikan maka kondisi harga akan kembali pada kondisi 100% atau par.

Ketika sebuah surat hutang diterbitkan, maka disinilah kondisi dari kupon atau imbal hasil akan ditentukan. Mengapa demikian?

Bila pada saat diterbitkan suku bunga acuan pada Bank Indonesia adalah sebesar 5%, maka bila ada sebuah institusi atau negara mengeluarkan surat hutang dengan imbal hasil 5% apakah akan menarik? Jawabannya kemungkinan besar akan sedikit peminatnya, mengapa? Karena semua akan mengukur kepada resiko.

Ya, maskipun pada kondisi surat hutang negara akan terdapat faktor lain yang diperhitungkan yaitu pengenaan objek pajak penghasilan atas imbal hasil lebih kecil dibandingkan pajak penghasilan atas bunga deposito, namun mari kita kesampingkan terlebih dahulu hal ini.

Artinya dengan resiko yang lebih tinggi dan likuiditas yang lebih rendah, akan jauh lebih menarik suku bunga bank sebesar 5% dibandingkan harus 5% didapat dari sebuah surat hutang siapapun penerbitnya. Sehingga pada saat penerbitan surat hutang negara faktor imbal hasil yang menarik akan menjadi penilaian utamanya.

Semakin jauh selisihnya dengan suku bunga saat itu maka akan semakin banyak peminat nya, itu sudah menjadi hukum komsumsi yang tidak terbantahkan bahwa yang semakin menarik akan semakin diminati.

Lalu bagaimana kita sebagai investor mendapatkan untung pertama dari surat hutang? Ya jawaban sederhanaya adalah dengan membeli surat hutang dan dipertahankan sampai akhir periode.

Namun langkah lain untuk bisa mendapatkan keuntungan lebih cepat adalah dengan menikmati imbal hasilnya sementara waktu dan menjual surat hutangnya dengan keadaan at premium atau lebih mahal daripada saat membeli.

Sebuah surat hutang yang akan diminati adalah ketika kondisi suku bunga acuan dari Bank Indonesia bergerak menjauhi dari imbal hasil surat hutang yang sudah berjalan.

Mari kita ambil data kondisi pergerakan suku bunga Bank Indonesia dibandingkan dengan ORI dan Sukuk yang diterbitkan:

  1. ORI 010 diterbitkan pada tanggal 15 Oktober 2013 dengan besar kupon adalah 8.5% dan pada saat kondisi BI rate adalah 7.5%. Artinya pada saat diterbitkan ORI 010 lebih ‘mahal’ 1% dari suku bunga acuan saat itu.

Dan pada saat 2016 dan suku bunga acuan BI Rate menjadi 7% di 18 Februari 2016 maka harga ORI 010 dipasar sekunder menjadi 100.7% atau diperdagangkan at premium, mengapa demikian?

Hal ini dikarenakan jarak antara imbal hasil dengan suku bunga acuan kini berjarak 1,5% dan masih tersisa waktu akan mendapatkan kupon sampai dengan 15 Oktober 2016.

  • SR 005 diterbitkan pada tanggal 27 Februari 2013 dengan besar kupon adalah 6% dan pada saat kondisi BI rate adalah 5.75%. Artinya pada saat SR 005 diterbitkan SR 005 lebih ‘mahal’ hanya 0.25% dari suku acuan saat itu.

Pada saat 2016 dan suku bunga acuan BI Rate menjadi 7% di 8 Februari 2016 maka harga SR 005 dipasar sekunder hanya 100.1% atau diperdagangkan hampir par, mengapa demikian?

Hal ini dikarenakan mendekati jatuh tempo nilai akan kembali kepada 100% atau par, dan SR 005 akan jatuh tempo pada 27 Februari 2016.

Kunci keberhasilan transaksi dengan maksud mendapatkan imbal hasil dari selisih harga beli dan jual dari surat hutang adalah mampu membeli surat hutang dengan imbal hasil tinggi dan menjualnya ketika suku bunga acuannya mengalami tren penurunan.

Suku bunga Bank Indonesia semenjak tahun 2005 terendah adalah 5.75%, tertinggi adalah 12.75%, rata-rata adalah 7.78%, nilai tengah 7.5% dan nilai yang paling sering muncul adalah 7.5%.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *